Centre of Social Excellence Gelar Belajar Bersama Angkatan Ke-3

Beasiswa Pelatihan Social Specialist dari CSE Indonesia
March 23, 2016
Call for Applications: CSE Training Batch IV on “Intensive Social Affairs Specialism Training”
June 20, 2016

Centre of Social Excellence Gelar Belajar Bersama Angkatan Ke-3

Centre of Social Excellence Gelar Belajar Bersama Angkatan Ke-3

Untuk ke-3 kalinya, Center of Social Excellence (CSE) didukung oleh The Forest Trust (TFT) menggelar kegiatan Belajar Bersama: “Social Specialist dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang Bertanggung Jawab”.

 

Kegiatan belajar bersama melibatkan 25 warga belajar, yang berasal dari berbagai instansi ini berlangsung selama 29 Maret – 7 April 2015 di Disaster Oasis Training Center, Kaliurang, D.I Yogyakarta.

Tujuan diadakannya belajar bersama ini adalah mentransformasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tentang kolaborasi sebagai jalan terbaik dalam pengelolaan SDA para warga belajar. Selain itu, warga belajar juga diajak untuk mengetahui resiko pengelolaan SDA dan cara-cara mitigasinya, serta inovasi dalam mengelola SDA secara bertanggung jawab.

Arief Perkasa, Senior Management Team dari The Forest Trust (TFT) – Indonesia, menerangkan ide pelatihan ini sendiri oleh berawal dari pengelolaan lahan di tingkat tapak yang biasanya memicu ketidakseimbangan dalam mengakomodir banyak kepentingan, seperti kepentingan pembangunan, pemenuhan ruang hidup dan penghidupan masyarakat, konservasi keaneka ragaman hayati dan pelestarian identitas budaya masyarakat.

“Seringkali situasi seperti ini berujung pada deforestasi dan/atau terlanggarnya hak-hak tradisional masyarakat. Permasalahan deforestasi dan penghormatan hak-hak inilah yang menjadi perhatian TFT untuk diatasi secara bersama-sama dengan stakeholderyang lebih luas,”ungkapnya.

Ia melanjutkan, dari sana, TFT meyakini beberapa akar permasalahan tersebut adalah ketidaksetaraan informasi dan pengetahuan diantara pemangku kepentingan.  “Kesetaraan yang dimaksud itu terkait hukum negara, hukum adat, rencana kerja perusahaan, budaya masyarakat, budaya korporasi, budaya birokrasi dan pemenuhan berbagai kepentingan dan kebutuhan pada sumberdaya yang sama,”lanjutnya.

Dari permasalahan tersebut, lahirlah Center of Social Excellence (CSE) – Indonesia, sebagai inisiasi TFT yang hadir dalam upaya berkontribusi positif terhadap perbaikan tata kelola lahan baik di tingkat tapak maupun di tingkat lanskap yang lebih luas.

Agus Nahrowi, Manajer CSE-Indonesia, menerangkan bahwa dalam kegiatan belajar bersama ini,  seluruh warga belajar, fasilitator, dan narasumber menyaratkan keberagaman, mulai dari LSM, masyarakat, pemerintah, peneliti, sampai praktisi perusahaan dan penggiat bisnis berkelanjutan.

Komposisi ini menurut Agus, seperti miniatur stakeholder pada tata kelola lahan di Indonesia.

“Harapannya, proses di dalamnya (di dalam pelatihan) hampir merepresentasikan kondisi nyata di lapangan. Proses padabatchsebelumnya menunjukkan adanya ‘kehausan’ para peserta untuk menemukan forum yang terbuka, nyaman, akomodatif dan sekaligus menemukan cara untuk mencapai kesetaraan informasi dan pengetahuan. Dengan kata lain, TFT menganggap miniatur ini siap untuk direplikasi pada lingkup yang lebih luas pada realitas yang terjadi saat ini dan beberapa masa ke depan,“ ujarnya.

Sedangkan untuk batch ke – 3 kali ini, Agus menerangkan bahwa CSE memperluas komposisi keterlibatan peserta dari batch sebelumnya.

“Ini jelas akan memberi hasil yang lebih lengkap sebagai proses pembelajaran,” terangnya.

Dalam belajar bersama ini, para warga belajar belajar dari dua jenis narasumber, yaitu, narasumber makro, dan narasumber tematik. Pada sesi makro, narasumber memberikan pembekalan atau pun kuliah umum pada warga belajar yang merupakan materi dasar sekaligus pengantar ke materi tematik. Sedangkan, untuk narasumber tematik akan secara khusus satu topik yang dikaji setelah peserta mengikuti ‘belajar kancah’.

‘Belajar kancah’ sendiri merupakan sesi belajar lapangan, di mana setiap warga belajar secara berkelompok ‘diterjunkan’ ke lapangan untuk mendalami tema-tema spesifik, seperti studi dampak sosial, studi tenurial, persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (padiatapa), resolusi konflik, dan inovasi pengelolaan sumber daya alam.

Belajar lapangan ini mengambil tempat di beberapa titik di Yogyakarta dan Magelang, seperti Karangwuni, Gadingan, Desa Blunyah Gede, Desa Banjarsari, Desa Keningar dan Taman Nasional Gunung Merapi.

Ginanjar Tamimy, warga belajar yang berasal dari salah satu perusahaan menyebutkan bahwa pelatihan ini bagus dalam hal membangun nilai-nilai kolaborasi, dan dilakukan dengan cara belajar orang dewasa. “Belajar bersama ini semestinya tidak hanya diselenggarakan di Yogyakarta, tetapi bisa juga diselenggarakan di kota-kota lainnya. Agar kasus-kasus yang dipelajari bisa lebih bervariasi ketika belajar kancah,” ujarnya.

Selaras dengan Ginanjar, Fauzi Sadi Nur, warga belajar dari Sulawesi Tenggara menambahkan agar belajar bersama ini bisa lebih merata. “Saya yakin, konflik yang ada di luar sana lebih bervariasi dan pelik, apalagi konflik yang ada di Kalimantan dan Sulawesi,” tukasnya. (Editor: Erwin Santoso)

DITULIS OLEH TOMMY APRIANDO

Tinggal di Yogyakarta dan suka bertualang. Menulis dan membaca jadi hobi.